Yayasan Pendidikan Islam Al-Munawwarah Murad

Home » Uncategorized » Mengenang Pengasas Yayasan Al-Munawwarah Murad

Mengenang Pengasas Yayasan Al-Munawwarah Murad

Peristiwa bersejarah di bibir Sungai Kualuh

Oleh MuhammadSeminar Sehari Mengenang Perjuangan Bangsa, beberapa hari lalu (19/6) dilangsungkan di Kampung Mesjid, ibukota Kecamatan Kualuh Hilir; terletak di ‘bibir” Sungai Kualuh yang lebar itu. Kecamatan ini berada di bawah Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) yang baru mengalami pemekaran tahun 2008. Seminar ini diselenggarakan oleh Panitia Pelaksanaan yang terdiri dan tokoh-tokoh muda Kampung Mesjid diketuai Halaluddin Nasution M.Pd dan Habibullah SP selaku Sekretaris. Seminar sejarah diadakan di tempat bersejarah.Mungkin timbul pertanyaan, peristiwa sejarah apa rupanya yang pernah terjadi di Kampung Mesjid? Pertanyaan ini perlu dijawab, karena generasi muda atau generasi penerus tidak tahu peristiwa sejarah yang pernah terjadi di daerah  terpencil yang dilingkari sungai itu. Peristiwa sejarah yang terjadi di masa perang kemerdekaan (1949) adalah penghancuran kubu Belanda yang pasukan intinya berjumlah 74 orang ditambah dengan anggota kesatuan lainnya sehingga berjumlah 100 orang. Pasukan Belanda bersenjata lengkap termasuk Brengun MK III dan senjata-senjata otomatis lainnya.

Penyerang Mengharungi Pasang Setinggi Dada
Pasukan TNI Gabungan 140 orang didukung sejumlah laskar dan gerilyawan yang terdiri dari penduduk setempat, sehingga jumlah pejuang sekitar 400 orang. Pasukan yang menyerang ini bersenjatakan  80 pucuk LE, senjata peninggalan Jepang yang masih baik, keraben dan senjata otomatis lainnya. Pasukan Gabungan ini dibagi tiga. “Pasukan Satu”, dipimpin Kapten Asmadi Siregar dibantu  Letnan Kelowo. “Pasukan Dua” dipimpin Abdullah Musa dibantu  Letnan Murad Hasyim. Sedangkan “Pasukan Tiga” dipimpin Kapten Nurdin Nasution dibantu  Letnan Hamid Zein dan Zainuddin Zein.

Siang itu, pasukan bergerak menaiki perahu-perahu menuju garis depan, menyusuri Aek Natas yang mengalir tenang. Konvoi perahu itu berjumlah 30 perahu kemudian memasuki Sungai Kualuh menuju kampung Mencari Lawan. Disini bergabung dengan ragu penvidik yang sudah menanti. Kemudian bergerak lagi menuju Kampung Sei Pinang sebagai tempat atau titik tolak melakukan penyerangan.

Pasukan ini menyerang kedudukan Belanda dari tiga jurusan dengan mengarungi rawa-rawa yang sedang pasang hingga sampai setinggi dada, sedangkan di bawah tanah yang berlumpur. Rencana serangan pada 5 Juli 1949 jam 24.00. Tetapi karena medan begitu berat, pasukan baru sampai dalam jarak 20 meter dari kedudukan musuh jam 05.00 dan jam 05.30 mulai dilakukan serangan serentak dan pertempuran berkecamuk. Pada saat itu pasukan Belanda ada yang meninggalkan box pertahanan dan ada yang telah beristirahat. Serangan mendadak menyebabkan Belanda kalang kabut kemudian disusul penyerbuan ke dalam box pertahanan musuh dan terjadilah duel satu lawan satu, parang dan lembing turut berbicara melumpuhkan musuh. Selain senjata tajam beraksi dalam perkelahian satu lawan satu juga popor senjata hinggap di kepala musuh. Menyadari telah banyak anggota pasukan Belanda yang menjadi korban, dalam suasana kepanikan itu terdengar teriakan: “Kami menyerah, jangan bunuh kami …! Seiring dengan teriakan itu, serdadu Belanda angkat tangan di atas kepala tanda menyerah.

Pertempuran ini berlangsung mulai pukul 05.30 sampai pukul 09.30 Sejumlah 18 orang serdadu Belanda tewas, 18 orang ditawan, mereka disuruh kembali ke induk pasukannya di Labuhan Bilik dengan menggunakan perahu serta membawa mayat kawan-kawan yang tewas. Selebihnya anggota pasukan Belanda ada melarikan din dan ada yang terjun ke sungai Kualuh, karena pasukan TNI mendesak mereka dan tiga jurusan. Sejumlah besar senjata LE berhasil disita, termasuk senjata Brengun MK III, berpeti-peti peluru dan geranat berhasil diangkut oleh kesatuan TNI yang didukung oleh Lasykar dan Gerilyawan.

Kerugian dipihak TNI hanya seorang prajurit Marwan yang gugur sedangkan beberapa orang lainnya mengalami luka ringan dan luka berat. Dua hari kemudian Belanda yang telah “dipermalukan” oleh kesatuan TNI Lasykar dan Gerilyawan melakukan serangan balasan. Selain mereka melakukan serangan melalui darat dan sungai juga menyerang dengan menggunakan pesawat mustang dan pesawat pembom. Kedai Kampung Mesjid diserang dengan bom api, menyebabkan api berkobar di Kampung Mesjid dan kedai yang tidak berdaya itu menjadi lautan api.

Demikian dan sekilas lintas peristiwa sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pemuda pejuang di daerah terpencil yang dikenal dengan nama Kampung Mesjid.

Penulis adalah Veteran Pejuang Kemerdekaan, Wartawan Senior Pemerhati Sejarah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: