Yayasan Pendidikan Islam Al-Munawwarah Murad

Kolonel (Purn) H. Murad Hasyim

Pelaku Sejarah Di Kampung Masjid

Posted on 19 Agustus 2009 by Kolektor Sejarah

“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Nama yang ditinggalkan oleh seseorang berbagai macam bentuknya. Ada yang meninggalkan karya nyata yang sangat bermanfaat bagi orang lain, ada yang meninggalkan sikap kepeloporan yang dapat dijadikan teladan.

Sikap kepahlawanan adalah sikap yang mempunyai keberanian yang luar biasa, berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan bangsa dan negara.  Sikap kepahlawanan itulah yang diperlihatkan oleh para pejuang-syuhada bangsa. Mereka gugur menyiram darahnya di persada ibu pertiwi. Mereka tidak sempat melihat “wajah” negerinya merdeka, tetapi anak cucu mereka menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Banyak juga pejuang dan pahlawan yang mengalami pasang surut kemerdekaan serta cakar-cakaran merebut kekuasaan.

Di antara pejuang pelaku sejarah yang melihat dan mengalami perjalanan dan perkembangan negeri ini adalah alm. Kapten H.R. Asmadi (Letkol Purn). Beliau adalah KomAndan Pertempuran yang berhasil memporak-porandakan kedudukan Pasukan Belanda di Kampung Masjid (70 km dari Rantau Prapat). 18  Tentara Belanda ditewaskan 18 orang lainnya ditawan, tetapi tawanan itu tidak dianiaya apalagi dibunuh, malah dikembalikan ke induk pasukannya di Labuhan Bilik. Selebihnya sempat melarikan diri. Senjata yang berhasil dirampas 12 pucuk senjata LE, Stengun, 1 pucuk brengun MK III, satu unit radio penghubung, berpeti-peti peluru dan granat berhasil diangkut oleh pasukan H.R. Asmadi. Sedangkan di pihak pejuang hanya seorang yang gugur bernama Marwan dan beberapa orang luka berat dan ringan.

Pelaku  Sejarah Itu Telah Tiada

Asmadi adalah tokoh pejuang Komandan Pertempuran dalam penyerangan terhadap kubu Belanda di Kampung Masjid. Selaku pimpinan pejuang berhasil menyelundupkan 40 orang garilyawan menjadi buruh anemer Perkebunan Padang Halaban. Mereka siang hari menjadi buruh perkebunan yang dikuasai Belanda, sedangkan malam menjadi gerilyawan menyerang pos-pos pengawal Belanda untuk merebut senjata dan peluru. Mereka dikoordinir oleh Asisten Kebun  Kasdi dan pimpinan gerilyawan itu Sersan  Hamzah Johan, mereka hanya bergerak pada malam hari saja. Persenjataan mereka disembunyikan di suatu tempat hanya anggota gerilyawan itu yang tahu.

Pada hari Jumat sekitar pukul 08.20 pagi tanggal 15 Februari 2008 pelaku sejarah H.R. Asmadi telah berpulang ke Rahmatullah tutup usia 82 tahun, Pemberangkatan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan dari di rumah duka Jalan D.I.Panjaitan 164 Medan sekitar pukul 5 sore. Dengan diantar oleh karabat handai taulan, jenazah dimakamkan di Taman Pahlawan Jalan Sisingamangaraja Medan, yang dilanjutkan dengan upacara militer.
H.R. Asmadi lahir tanggal 27 Juli 1926 di Tanjung Balai meninggalkan seorang isteri bernama Rasdiana Siagian (80) dan 7 orang anak masing-masing bernama :

1.    Ir. Asmady Gentaran Siregar
2.    Hj. Roswita  Hanny Siregar
3.    Hartati Siregar
4.    Flora Sari Siregar, Dra.Apt
5.    Godang Riadi Siregar,SH
6.    Alm. Muda Yuda Siregar
7.    Achira Berti Siregar

Peristiwa Itu Dilestarikan

Peristiwa-peristiwa heroik di Labuhan Batu di antaranya penyerbuan terhadap kubu Belanda di tepi Sungai Kualuh  tanggal 5 Juni 1949 telah dilestarikan dan direkam dalam beberapa buku. Di antaranya adalah buku “Gerilya di Asahan Labuhan Batu 1947-1949″ yang ditulis oleh pelaku sejarah Letkol Mansur (1977), dalam buku “Kadet Brastagi” oleh Ikatan Kadet Brastagi (1980), dalam buku “Api Berkobar di Kampung Mesjid” yang diterbitkan oleh Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan R.I.(1995) dan buku lainnya.

Bukan saja peristiwa sejarah ini direkam dalam buku tetapi tokoh-tokoh penjuang dan para pelaku peristiwa sejarah itu, foto-foto mereka ukuran besar selalu ditampilkan dalam pameran-pameran “Foto Perjuangan” yang ditampilkan  dalam pameran itu, antara lain Kapten H.R Asmadi, Letnan Kelowo, Letnan Murad Hasyim, Letnan Zainuddin Zein, Letnan Hamid Zein dan lain-lain. Pameran foto-foto perjuangan telah dilakukan pada hari-hari bersejarah sejak tahun 1990.

Dengan dilestarikan peristiwa sejarah Kampung Masjid baik dalam bentuk buku maupun bentuk gambar jelaslah, bahwa peristiwa itu tidak akan hanyut dibawa oleh arus perjalanan masa dan tidak akan tertimbun oleh lumpur perjalanan waktu.

Strategi Penyerangan

Sebagai ilustrasi perlu kami ungkapkan mengenai strategi penyerangan terhadap kedudukan Belanda dari tepi Sungai Kualuh itu. Serangan direncanakan, dilakukan dari belakang asrama Belanda dan harus didesak sedemikian rupa agar Belanda mengundurkan diri ke arah sungai kemudian serdadu Belanda itu mencebur ke dalam sungai.

Kompi H.R. Asmadi menyerang dari tengah dengan dibantu oleh Letnan S. Guntur Harun Sakti dan Cek Mah. Kompi Letnan Nurdin dipimpin oleh Abdullah  Musa Letnan Murad Hasyim, Letnan Hamid Zein, Letnan Bustami, dan Letnan Zainuddin  Zein, sedangkan Kompi Letnan Kelowo, dibantu oleh Letnan Maryono, Sersan Jamin Sudarman, dan Sersan Saut.

Pasukan ini juga dibantu oleh rakyat dan turut melakukan penyerangan, persenjataan  pasukan cukup memadai dan peluru lebih dari cukup, karena peluru-peluru dan persenjataan banyak direbut dalam pertempuran-pertempuran yang dilakukan terhadap tentara Belanda dan Barisan Pengawal yang mengawal Perkebunan Belanda.

Komandan Pertempuran H.R. Asmadi telah menetapkan hari “H” penyerbuan adalah tanggal 5 Juni 1949 (malam). Semua pasukan berkumpul di Kuala Bangka, setelah makan malam mereka berangkat dengan menggunakan 30 buah perahu sesuai dengan formasi masing-masing sebagai  mana telah ditetap oleh Kamandan Pertempuran.  Telah ditetapkan “titik” untuk berpencar adalah Kampung Sungai Pinang. Pasukan ini sampai di tempat tersebut setelah melakukan perjalanan selama 2 jam dengan perahu.

Menyerang  Waktu Belanda Lengah

Ketika seluruh pasukan telah sampai di Kampung Sungai Pinang yang merupakan “titik” pencar, jam menunjukkan pukul 22.30. Pasukan mulai bergerak mengharungi rawa. Tidak diperkirakan dari semula pada jam tersebut air sedang pasang. Akibat air pasang sampai di pinggang menyebabkan gerakan pasukan sangat lamban sekali. Ketika jam  menunjukkan pukul  01.00, Kapten H.R.Asmadi belum memberi aba-aba penyerangan, padahal kubu Belanda makin dekat.

Setelah pasukan berada dalam jarak 20 meter jelas dilihat dalam kesamaran, penjagaan telah ditarik dari box-box yang ada. Tentara Belanda itu ada yang sedang tidur, ada yang bercelana kolor, pergi mandi dan sebagainya. Waktu itulah Kapten Asmadi memberi aba-aba dengan tembakan pistol tiga kali tanda penyerangan dimulai. Waktu itu jam menunjukkan 05.30.

Segera disusul dengan tembakan penindasan yang cukup gencar. Timbul kegaduhan yang luar biasa dari pihak musuh. Mereka mencoba menempati box mereka dalam keadaan bercelana kolor, tembakan brengun Belanda seperti hujan layaknya tidak ada henti-hentinya. Kemudian para gerilyawan berhasil masuk ke dalam box-box musuh dan berkelahi seorang lawan seorang, popor mulai bicara menghantam kepala musuh demikian juga pisau dan parang ikut bicara. Di tengah kesibukan dan kekalutan penyerangan itu terdengar teriakan kami menyerah “jangan bunuh aku,”

Pertempuran baru berakhir pukul 09.30 musuh yang masih hidup menyerah semua, ada juga yang sempat melarikan diri, di antaranya seorang Belanda bernama Smurrenburg. Mereka melarikan diri dengan perahu menuju Panei. Karena kedudukan Belanda sudah hancur maka bendera Belanda diturunkan, dirobek birunya dan tinggal Merah Putih dinaikkan ke puncak tiang.

Penghargaan Kepada Pejuang

Dari uraian yang sederhana ini jelaslah betapa perjuangan yang telah dilakukan oleh pejuang Labuhan Batu. Untuk sekadar mengenang jasa mereka, maka kami menyarankan agar nama H.R. Asmadi ditabalkan pada salah satu jalan di kota Rantau Parapat. Penghargaan ini berarti penghargaan kepada seluruh  pejuang Labuhan Batu umumnya dan pejuang yang menghancurkan kubu Belanda di Kampung Masjid khususnya.

Oeh : Muhammad TWH

Sumber : Waspada Online

Mengenang Pengasas Yayasan Al-Munawwarah Murad

Peristiwa bersejarah di bibir Sungai Kualuh

Oleh MuhammadSeminar Sehari Mengenang Perjuangan Bangsa, beberapa hari lalu (19/6) dilangsungkan di Kampung Mesjid, ibukota Kecamatan Kualuh Hilir; terletak di ‘bibir” Sungai Kualuh yang lebar itu. Kecamatan ini berada di bawah Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) yang baru mengalami pemekaran tahun 2008. Seminar ini diselenggarakan oleh Panitia Pelaksanaan yang terdiri dan tokoh-tokoh muda Kampung Mesjid diketuai Halaluddin Nasution M.Pd dan Habibullah SP selaku Sekretaris. Seminar sejarah diadakan di tempat bersejarah.Mungkin timbul pertanyaan, peristiwa sejarah apa rupanya yang pernah terjadi di Kampung Mesjid? Pertanyaan ini perlu dijawab, karena generasi muda atau generasi penerus tidak tahu peristiwa sejarah yang pernah terjadi di daerah  terpencil yang dilingkari sungai itu. Peristiwa sejarah yang terjadi di masa perang kemerdekaan (1949) adalah penghancuran kubu Belanda yang pasukan intinya berjumlah 74 orang ditambah dengan anggota kesatuan lainnya sehingga berjumlah 100 orang. Pasukan Belanda bersenjata lengkap termasuk Brengun MK III dan senjata-senjata otomatis lainnya.

Penyerang Mengharungi Pasang Setinggi Dada
Pasukan TNI Gabungan 140 orang didukung sejumlah laskar dan gerilyawan yang terdiri dari penduduk setempat, sehingga jumlah pejuang sekitar 400 orang. Pasukan yang menyerang ini bersenjatakan  80 pucuk LE, senjata peninggalan Jepang yang masih baik, keraben dan senjata otomatis lainnya. Pasukan Gabungan ini dibagi tiga. “Pasukan Satu”, dipimpin Kapten Asmadi Siregar dibantu  Letnan Kelowo. “Pasukan Dua” dipimpin Abdullah Musa dibantu  Letnan Murad Hasyim. Sedangkan “Pasukan Tiga” dipimpin Kapten Nurdin Nasution dibantu  Letnan Hamid Zein dan Zainuddin Zein.

Siang itu, pasukan bergerak menaiki perahu-perahu menuju garis depan, menyusuri Aek Natas yang mengalir tenang. Konvoi perahu itu berjumlah 30 perahu kemudian memasuki Sungai Kualuh menuju kampung Mencari Lawan. Disini bergabung dengan ragu penvidik yang sudah menanti. Kemudian bergerak lagi menuju Kampung Sei Pinang sebagai tempat atau titik tolak melakukan penyerangan.

Pasukan ini menyerang kedudukan Belanda dari tiga jurusan dengan mengarungi rawa-rawa yang sedang pasang hingga sampai setinggi dada, sedangkan di bawah tanah yang berlumpur. Rencana serangan pada 5 Juli 1949 jam 24.00. Tetapi karena medan begitu berat, pasukan baru sampai dalam jarak 20 meter dari kedudukan musuh jam 05.00 dan jam 05.30 mulai dilakukan serangan serentak dan pertempuran berkecamuk. Pada saat itu pasukan Belanda ada yang meninggalkan box pertahanan dan ada yang telah beristirahat. Serangan mendadak menyebabkan Belanda kalang kabut kemudian disusul penyerbuan ke dalam box pertahanan musuh dan terjadilah duel satu lawan satu, parang dan lembing turut berbicara melumpuhkan musuh. Selain senjata tajam beraksi dalam perkelahian satu lawan satu juga popor senjata hinggap di kepala musuh. Menyadari telah banyak anggota pasukan Belanda yang menjadi korban, dalam suasana kepanikan itu terdengar teriakan: “Kami menyerah, jangan bunuh kami …! Seiring dengan teriakan itu, serdadu Belanda angkat tangan di atas kepala tanda menyerah.

Pertempuran ini berlangsung mulai pukul 05.30 sampai pukul 09.30 Sejumlah 18 orang serdadu Belanda tewas, 18 orang ditawan, mereka disuruh kembali ke induk pasukannya di Labuhan Bilik dengan menggunakan perahu serta membawa mayat kawan-kawan yang tewas. Selebihnya anggota pasukan Belanda ada melarikan din dan ada yang terjun ke sungai Kualuh, karena pasukan TNI mendesak mereka dan tiga jurusan. Sejumlah besar senjata LE berhasil disita, termasuk senjata Brengun MK III, berpeti-peti peluru dan geranat berhasil diangkut oleh kesatuan TNI yang didukung oleh Lasykar dan Gerilyawan.

Kerugian dipihak TNI hanya seorang prajurit Marwan yang gugur sedangkan beberapa orang lainnya mengalami luka ringan dan luka berat. Dua hari kemudian Belanda yang telah “dipermalukan” oleh kesatuan TNI Lasykar dan Gerilyawan melakukan serangan balasan. Selain mereka melakukan serangan melalui darat dan sungai juga menyerang dengan menggunakan pesawat mustang dan pesawat pembom. Kedai Kampung Mesjid diserang dengan bom api, menyebabkan api berkobar di Kampung Mesjid dan kedai yang tidak berdaya itu menjadi lautan api.

Demikian dan sekilas lintas peristiwa sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pemuda pejuang di daerah terpencil yang dikenal dengan nama Kampung Mesjid.

Penulis adalah Veteran Pejuang Kemerdekaan, Wartawan Senior Pemerhati Sejarah

Sejumlah siswa mengikuti pawai sepeda hias yang digelar SD Bunayya di Medan, Sumut, Selasa (17/7).

 

MURID TK BUNAYYA II STUDY TOUR KE PELABUHAN BELAWAN

19 Pebruari 2010

Sebanyak 96 murid Taman Kanak Kanak (TK) Bunayya II Jalan Beo Sei Sikambing  Medan  Sunggal  melakukan kunjungan belajar ke Pelabuhan Indonesia I Cabang Belawan untuk menyaksikan sistem kerja transportasi laut di Pelabuhan Belawan. Kehadiran siswa  usia  dini  yang  didanipingi 10  orang guru  pembimbing  di pelabuhan terbesar  ketiga  di  Indonesia  tersebut, disambut  Swandi  Hutasoit  staf  humas dan Sukarin Kepala Satuan Pengamanan PT Pelabuhan Indonesia I Cabang Belawan.

Darnisa Kepala TK Bunayya II mengatakan, kunjungan anak didik yang  bernaung  diyayasan pendidikan Islam Al Munawwarah  Murad  tersebut  sebagai  bentuk  kunjungan  belajar. Kegiatan ini bertujuan agar anak didik yang  masih usia muda  dapat mengetahui dan melihat langsung salah satu jenis alat transportasi yang dapat berjalan di air, yakni kapal serta hal yang terkait dengan kapal di pelabuhan dan aktivitas lainnya.

Kunjungan seperti ini,  kata Darnisah, akan memberi pemahaman kepada anak didik bahwa kapal yang terbuat dari kayu ataupun besi yang mereka  lihat  langsung di pelabuhan salah satu bentuk kendaraah air yang tidak kalah nyaman bila  dibandingkan dengan kendaraan darat atau udara. Kami menginginkan anak didik sejak dini dapat melihat langsung kapal pengangkut orang maupun barang yang banyak memberi peran dalam kehidupan kita sehari hari, ujar Darnisah.

Swandi kepada puluhan tamu cilik yang diharapkan kelak menjadi penerus bangsa, menjelaskan tentang peran dan  fungsi  pelabuhan, antara lain  sebagai  ujung  tombak   perekonomian. Para  bocah  cilik  itu  dibawa ke dernaga  terminal  penumpang  secara  berbaris  untuk  melihat kapal yang sedang sandar di dermaga. Alumni Fakultas Hukum USU itu menjelaskan, pelabuhan adalah  tempat  turun naik penumpang maupun barang antar pulau di Indonesia  maupun  antar  negara.  Meski  sewaktu waktu pelabuhan terlihat sepi, namun aktivitas di Pelabuhan Belawan tetap berlangsung selama 24 jam sehari secara berkesinambungan.

Pelabuhan  ini  tidak  ada sepinya, ada  kapal  yang  sandar  di dermaga tetapi tidak ada orang yang terlihat. Sebenarnya kapal tersebut  sedang  bongkar  barang  curah  kering, seperti  bungkil dengan sistem compeyer yang  langsung  dari  kapal  ke gudang, jadi  tidak ada terlihat orang yang bekerja, jelas Swandi menunjukkan kepada pada murid sebuah kapal  yang sedang  membongkar bungkil di dermaga 107 Ujungbaru yang terkesan sepi orang orang bekerja.

Source :Harian Global

VISIT INDONESIAN GREEN to YAYASAN ISLAM Al MUNAWWARAH

Pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu telah diadakan kegiatan Puncak tema “Tanaman” oleh Yayasan Islam Al Munawwarah dengan kegiatan menanam pohon bersama NGO COC-International atau yang kini lebih dikenal dengan Wahana Konservasi Iklim (WAKIL).